MODERASI BERAGAMA SANGAT PENTING DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA DAN BERNEGARA. PC NU KOTA CIMAHI SIAP MENJADI GARDA TERDEPAN MENGAWAL MODERASI BERAGAMA

author
4 minutes, 32 seconds Read

Cimahi, 2 Oktober 2022. (HDI FKUB Kota Cimahi).
Moderasi beragama harus dimaknai sebagai usaha dan proses dinamis dari upaya membangun cara pandang, sikap dan praktek beragama dalam kehidupan bersama. Moderasi Beragama diperlukan karena realitas keindonesiaan yang majemuk menghadapi banyak tantangan serius sehingga dibutuhkan strategi memperkuat tatanan kehidupan harmonis umat beragama di tengah keragaman. Oleh karenanya “moderasi beragama sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.”

Demikian disampaikan oleh Ketua PCNU Kota Cimahi yang juga sebagai Wakil Ketua FKUB Kota Cimahi, KH Enjang Nasrulloh (Aa), ketika memberikan sambutan pada Kegiatan Sosialisasi FKUB Kota Cimahi dengan tema ”Kerukunan Antar Umat Beragama Meningkatkan Stabilitas Bangsa Menuju Indonesia Maju”, yang bertempat di Aula sekretariat PCNU Kota Cimahi, Ponpes Al Musyahadah Cilember Kota Cimahi, Minggu (2/10/2022).

Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa “Moderasi beragama hakekatnya adalah ikhitar, proses, yang tidak berkesudahan, upaya untuk bagaimana membangun cara pandang, sikap dan praktek beragama dalam kehidupan bersama,” ujarnya.

Beliau juga menyampaikan bahwa dalam Moderasi Beragama, adalah pengejawantahan nilai-nilai esensial Agama terutama dilakukan dalam konteks perlindungan nilai-nilai kemanusiaan, baik melalui orientasi memanusiakan manusia maupun membangun kemaslahatan bersama. “Ini dua pesan agama dari banyak pesan agama yang dalam konteks saat ini amat sangat penting untuk jadi perhatian kita bersama,” tandasnya.

Disaat yang bersamaan beliau juga menyampaikan, adanya tantangan yang sangat serius sekarang ini, tantangan serius itu muncul dalam sejumlah fenomena keberagamaan yang muncul belakangan ini. Salahsatunya, hadirnya fenomena keberagamaan yang mengingkari nilai-nilai kemanusiaan, bertentangan dengan pesan agama sendiri untuk melindungi harkat martabat kemanusiaan. tuturnya.

“Beragama menjadi ekslusif, padahal harusnya inklusif “. Maka terhadap tantangan-tantangan itu, beberapa solusi yang ditawarkan adalah bagaimana kita bersama membangun kesadaran yang memiliki faham dan amalan keagaman yang tidak berlebih-lebihan, yang tidak melampaui batas, yang tidak ekstrim dalam kehidupan bersama di tengah-tengah bangsa ini,” paparnya.

Solusi demikian, menurutnya, bisa disebut sebagai penguatan moderasi beragama sebagai ikhtiar dinamis untuk membangun cara pandang, sikap, praktek beragama dalam kehidupan bersama yang mampu mengedepankan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kemaslatan bersama. “Diterapkan dengan prinsip-prinsip keadilan, keberimbangan, dan mentaati konstitusi berbangsa,” sambungnya.

Oleh karena itu menurut Aa, bahwa “Moderasi Beragama sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara “. Sudah barang tentu PCNU Kota Cimahi siap menjadi garda terdepan mengawal moderasi beragama.

Hadir pada kesempatan ini, Kabid IPWASBANG KTESBA Badan Kesbangpol Kota Cimahi, Deden Hidayat. S.H, M.H. dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa Pemerintah akan terus berkomitmen untuk selalu mendorong dan meneguhkan kerukunan umat beragama di Kota Cimahi, terlebih FKUB sebagai Organisasi Mandatori yang merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah, khususnya pemerintah Kota Cimahi, yang terus mengawal kerukunan hidup antar umat seagama maupun antar umat beragama dengan pemerintah, tuturnya.

“Alhamdulillah, kita sangat bersyukur bahwa kita diwarisi Bhinneka Tunggal Ika dari para pendiri bangsa Indonesia. “Kita ini negara yang besar dengan 17.504 pulau, ada 6 agama resmi dan hampir 240-an kepercayaan, juga terdapat 1.340 suku dan 546 bahasa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, sehingga kita harus selalu merawat kebhinekaan”. Ujarnya.

Walaupun kita berbeda Suku, Ras, Agama, juga pandangan dalam keagamaan, tetapi kita tetap saling menghormati, saling menghargai, bersatu, rukun, dan bersama-sama bergotong royong, sebagai anak bangsa” ujarnya,

Deden Juga menyampaikan, bahwa tidak sedikit yang beranggapan bahwa moderasi beragama akan mendangkalkan pemahaman keagamaan. Padahal, moderasi beragama justru mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan yang sesungguhnya. Orang dengan pemahaman agama yang baik akan bersikap ramah kepada orang lain, terlebih dalam menghadapi perbedaan. Singkatnya, Moderasi beragama bukan mencampuradukkan ajaran agama, melainkan menghargai keberagaman agama di Indonesia. tandasnya

Dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang Penguatan Moderasi Beragama yang disampaikan oleh sekretaris FKUB Kota Cimahi. H. Yana Permana, S.Ag, M.Pd. beliau menyampaikan “Ada 4 Indikator Moderasi Beragama yaitu Komitmen Kebangsaan, Toleransi, Anti kekerasan dan Adaptif terhadap budaya lokal,” imbuhnya.

Toleransi merupakan bagian penting dari moderasi beragama. Yana mengatakan bahwa sikap tersebut adalah sikap yang harus dimiliki untuk dapat memandang perbedaan-perbedaan disetiap anak bangsa dalam kerangka persatuan dan kesatuan. “Toleransi itu Siap menerima sebuah perbedaan ditengah keberagamaan dan mau bekerjasama dalam konteks Berbangsa dan Bernegara “. tuturnya.

Sikap tertutup, eksklusif, sebagai kebalikan dari sikap toleransi merupakan hal yang harus dihindari karena selain tidak sesuai dengan Bhinneka Tunggal Ika, juga akan memicu dan meningkatkan Intoleransi yang bakal merusak sendi-sendi kebangsaan.”Praktik-praktik keagamaan yang eksklusif, yang tertutup, harus kita hindari karena sikap ini pasti akan memicu penolakan-penolakan dan akan menimbulkan pertentangan-pertentangan,” ucapnya.

Menurut Yana, semua ormas, tokoh agama, tokoh masyarakat dalam membangun bangsa harus turut menguatkan Moderasi Beragama di tengah masyarakat. Ada sejumlah hal yang dapat dilakukan, dimulai dari memperkuat komitmen kebangsaan.

Tidak hanya itu, Yana juga menyampaikan setiap anak bangsa harus punya komitmen kebangsaan yang kuat, mengedepankan penerimaan prinsip-prinsip berbangsa yang tertuang dalam konstitusi kita, menjunjung tinggi Ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta tata kehidupan berbangsa dan bernegara,” tuturnya.

Selanjutnya Yana juga menyampaikan bahwa, kita harus menjunjung tinggi sikap toleran kepada sesama, menghormati perbedaan, hingga memberi ruang bagi orang lain untuk berkeyakinan. dengan sikap tersebut, masyarakat dapat mengekspresikan keyakinan mereka secara bertanggung jawab dan saling menghargai perbedaan yang tidak menjadi penghalang untuk tetap bekerja sama.

Tak kalah penting, Yana juga menekankan bahwa setiap anak bangsa harus memiliki prinsip anti kekerasan dan menolak tindakan yang menggunakan cara-cara kekerasan baik fisik maupun verbal dalam aktivitasnya.

“Setiap anak bangsa harus menghargai tradisi dan budaya lokal masyarakat Indonesia yang sangat bhineka, ramah dan terbuka terhadap keberagaman tradisi yang merupakan warisan leluhur kita, ramah dan terbuka terhadap seni dan budaya masyarakat lokal dalam kerangka Bhineka Tunggal Ika,” tandasnya.

Mengakhiri paparan materinya, Yana menekankan bahwa “Moderasi beragama sangat penting, karena sebagai sarana mewujudkan kemaslahatan kehidupan beragama dan berbangsa, sehingga tercipta kehidupan yang Rukun, Harmonis, Damai, Toleran serta taat pada konstitusi,” tandasnya.(HDI)

Kontributor : Aa.
Fotoghrafer : PCNU

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *